“LISAN SEBAGAI CERMIN KEPRIBADIAN”

Pernahkah lisan Anda bergerak dan mengeluarkan suara tanpa dikehendaki? Apabila ini benar-benar terjadi, Anda pasti panik dan segera mencari pertolongan untuk menormalkannya kembali.

Setiap manusia diberi kemampuan mengontrol setiap aktivitas anggota tubuh, tanpa kecuali lisan dan bibir. Maka wajar jika Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ berpesan kepada Mu’adz bin Jabal agar senantiasa menjaga lisan: “Hendaklah engkau menahan anggota tubuhmu yang satu ini.” Ingin mengetahui lebih jauh, Mu’adz kembali bertanya: “Wahai Nabi Allah, haruskah kita bertanggung jawab atas setiap ucapan kita?” Mendengar pertanyaan ini, beliau menjawab: “Betapa meruginya ibumu, hai Mu’adz. Adakah yang menyebabkan manusia tersungkur dalam Neraka selain tutur kata mereka sendiri?”[HR. At. Tirmidzi]

Lebih jauh, Nabi kita pun menekankan pentingnya penjagaan lisan dengan bersabda:

((مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ))

“Barang siapa yang menjaga anggota tubuhnya yang terletak antara kedua tulang rahangnya dan antara kedua pahanya, niscaya aku memberinya jaminan masuk Surga”[HR. Al. Bukhari]

Penekanan terhadap pentingnya menjaga lisan membuktikan bahwa setiap tutur kata yang terucap sejatinya adalah ekspresi isi batin dan pikiran Anda. Kesucian batin terpancar secara luhur melaluinya, sebagai buah lisan Anda yang menyejukkan jiwa. Begitu pun berbagai karakter buruk yang dipendam dalam batin, yang menyesakkan jiwa, juga mengalir melalui lisan Anda. Allah ~Subhanahu wa ta’ala~ berfirman:

((أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ * وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ))

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad [47]: 29-30)

Wajar jika Islam menjadikan buah lisan sebagai cermin jati diri Anda. Karena itulah Rasulullah mengingatkan:

((لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَانِ وَلَا اللَّعَانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ))

“Tidak layak bagi seorang mukmin banyak mencela orang lain dan banyak melaknat, tidak pula bertutur kata keji dan kotor.” [HR. At-Tirmidzi]

Ibnu Jarir at-Thabari berkata: “Di antara karunia terbesar Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah kemampuan untuk berkomunikasi. Dengannya mereka saling mengungkapkan isi hati. Melalui lisan, mereka dapat mengutarakan keinginan pribadi. Urusan yang sebelumnya sulit menjadi mudah berkat berkomunikasi yang baik. Dengan lisan pula mereka mengesakan, bertasbih kepada (Allah-red), dan menyucikan Allah. Berbekal lisan mereka juga manusia menggapai kebutuhan hidupnya. Dan dengan lisan mereka berdialog, saling mengenal, serta berinteraksi sosial.

Dalam urusan komunikasi, Allah menggolongkan manusia pada tingkatan-tingkatan kemampuan, sebagian orang berada diatas orang lain. Di antara mereka ada yang terlihat begitu karismatik ketika berbicara, ada yang mahir berorasi, dan ada pula yang kurang mampu mengutarakan maksud hati. Orang yang paling mulia dari mereka di Sisi-Nya adalah yang paling mampu mengutarakan dan menjelaskan keinginannya. Dia pun berfirman untuk menegaskan keutamaan seorang yang mahir berkomunikasi:

((أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ))

‘Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.’ (QS. Az-Zukhfur [43]: 18)

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang mampu dengan mudah mengutarakan maksud hatinya lebih mulia dibanding orang yang kurang mampu menjelaskan apa yang terkandung dalam hatinya. [Tafsir at-Thabari (hal. 8-9)]

Kesadaran bahwa lisan ibarat cermin yang mencirikan kepribadian seseorang akan mendorong Anda untuk senantiasa mengontrolnya, terlebih dahulu memikirkan dan menimbang setiap kata yang hendak diucapkan. Maka semakin lemah kontrol terhadap buah lisan menjadi bukti nyata akan buruknya jiwa Anda. Inilah salah satu pelajaran yang dapat kita tangkap dari petuah Nabi Muhammad kepada istri tercintanya: Aisyah binti Abu Bakar:

((يَاعَائِشَةَ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ))

“Hai Aisyah, orang yang paling rendah martabatnya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang yang semasa hidupnya dikucilkan orang lain karena mereka sungkan dengan tutur katanya yang keji.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Saudaraku seiman! Sesungguhnya komunikasi menunjukkan suatu proses tarik ulur antara dua pihak atau lebih. Dengan demikian, melalui komunikasi yang dilakukan, sejatinya Anda selalu berusaha mempengaruhi teman atau lawan bicara. Pengaruh tersebut berupa kabar yang hendak Anda sampaikan agar dipercayai olehnya. Bisa pula berupa ideologi yang ingin Anda tanamkan padanya. Atau berupa suasana hati yang hendak Anda curahkan kepadanya. Dan juga bisa komunikasi ditunjukkan supaya orang yang diajak bicara menuruti kehendak Anda.

Keinginan untuk menarik atau mempengaruhi lawan bicara membutuhkan keteguhan batin, yang tercermin pada isi kata-kata Anda. Semakin Anda yakin dan kukuh dengan kandungan kata-kata yang disampaikan, semakin besar peluang keberhasilan komunikasi Anda. Kelanggengan komunikasi bergantung pada jiwa yang teguh. Dengan keteguhan situasi apa pun yang terjadi, dan bagaimanapun sikap lawan bicara, etika serta tujuan komunikasi menurut Islam tetap dapat Anda terapkan. Dengannya Anda dapat menguasai jalannya komunikasi, jauh dari sikap emosional atau reaksional yang umumnya rentan diombang-ambingkan oleh suasana lingkungan dan keberadaan orang lain.

Ubaidullah bin Adi bin Khiyar menemui Khalifah Utsman bin Affan yang sedang dikepung orang-orang Khawarij, para pemberontak. Ubaidullah pun bertanya: “Sungguh engkaulah pemimpin umat Islam. Namun sekarang engkau terkepung, dan yang menjadi imam shalat kami adalah pemimpin kaum pemberontak, sehingga kami sungkan untuk shalat dibelakangnya. Menanggapi keluhan ini, sang khalifah mengajarkan keteguhan prinsip hidup dalam segala kondisi dengan menyatakan:

((الصَّلاةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ ، فَإِذَا أَحْسَنَ النَّاسُ ، فَأَحْسِنْ مَعَهُمْ ، وَإِذَا أَسَاءُوا فَاجْتَنِبْ إِسَاءَتَهُمْ))

“Shalat adalah amalan manusia yang paling baik. Sehingga apabila mereka berbuat baik maka lakukanlah kebaikan bersama mereka. Namun pada saat mereka keburukan maka jauhilah prilaku buruk mereka.” [HR. Bukhari]

Saudaraku! Keteguhan batin dalam menjalankan dan memperjuangkan keyakinan semacam ini adalah salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~.

Shared by:
Departemen Media dan Humas
UKM LD Asy-Syari’ah MPM
Fakultas Hukum Unhas

Sumber: Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A (2013). Cerdas Berkomunikasi Ala Nabi. Jakarta. Pustaka Imam Asy Syafi’i.

Follow us:
• LINE: @eog1521o
• Instagram: @ldampmfhuh
• Fanspage: UKM LD Asy-Syari’ah MPM FH-UH
• Youtube: LD Asy-Syariah MPM Fakultas Hukum Unhas
• Website: www.lda-syariah.org

“Memurnikan Aqidah, Menebar Sunnah, Dakwah Wasathiyah”

About LD Asy-Syariah MPM FH UH

View all posts by LD Asy-Syariah MPM FH UH →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *