Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar

KEMULIAAN WANITA BERHIJAB

Memurnikan Aqidah, Menebar Sunnah, Dakwah Wasathiyah

KEMULIAAN WANITA BERHIJAB

Saudariku, Mengapa seorang Muslimah harus berhijab?

Pertanyaan ini sangat penting namun jawabannya justru jauh lebih penting. Satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang cukup panjang. Jilbab atau hijab merupakan satu hal yang telah diperintahkan oleh Sang Pembuat syariat. Sebagai syariat yang memiliki konsekwensi jauh ke depan, menyangkut kebahagiaan dan kemashlahatan hidup di dunia dan akhirat. Jadi, persoalan jilbab bukan hanya persoalan adat ataupun mode fashion Jilbab adalah busana universal yang harus dikenakan oleh wanita yang telah mengikrarkan keimanannya. Tak perduli apakah ia muslimah Arab, Indonesia, Eropa ataupun Cina. Karena perintah mengenakan hijab ini berlaku umum bagi segenap muslimah yang ada di setiap penjuru bumi.

Namun, sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita menyimak beragam alasan penghambat Seorang muslimah untuk berhijab,
\
1. “Saya belum siap berhijab”
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah” (HR. Bukhari). Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa semua perintah dalam Islam itu pasti mampu dan mudah dilakukan oleh semua manusia. Demikian juga berhijab, jika kita renungkan sebenarnya mudah dan siap kapan saja untuk dilakukan. Hanya saja setan senantiasa membisikkan berbagai macam alasan kepada para muslimah sehingga mengesankan berhijab itu sulit. Selain itu, renungkanlah firman Allah (yang artinya), “Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. An Nuur: 51). Ketika diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya, orang beriman mengatakan: “kami dengar, dan kami taat”, bukan “kami dengar, tapi nanti dulu saya belum siap”.

2. “Lebih penting jilbab hati terlebih dahulu”
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah, jika ia baik seluruh tubuh akan baik, dan jika ia rusak seluruh tubuh akan rusak” (Muttaqun ‘alaih). Maka jika hati itu baik, pasti secara lahiriyah baik. Baik di sini artinya sudah sesuai dengan tuntunan agama. Maka muslimah yang hatinya baik, pasti ia berhijab syar’i. Dan bagaimana mungkin seorang muslimah yang membuka aurat, melanggar ajaran agama, merasa hatinya sudah baik?

3. “Banyak wanita berhijab yang akhlaknya buruk, tidak sepadan dengan hijabnya”
Seorang muslimah, selama ia masih manusia, tentu masih berpotensi untuk berbuat dosa dan lupa. Baik ia sudah berjilbab atau belum. Berhijab tidak memastikan atau menjamin seorang muslimah pasti aman dari perbuatan dosa seperti akhlak yang buruk, perkataan yang buruk, dan pelanggaran lainnya. Namun akhlak yang baik itu wajib, baik sudah berhijab atau belum. Dan berhijab pun wajib, baik akhlak sudah baik atau pun belum.

4. “Saya belum dapat hidayah”
Hidayah itu dicari, bukan ditunggu. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan kami tunjuki kepada jalan Kami” (QS. Al Ankabut: 69).
Oleh karena itu berhentilah menunggu hidayah, mulailah mencari hidayah. Bahkan berhijab adalah salah satu bentuk bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah, semoga dengan itu menjadi sebab untuk menapaki jalan yang benar.

Serta masih banyak alasan lainnya yang sebenarnya terbantahkan oleh Syariat Allah Azza wa Jalla.
Jadi, mengapa kita harus berhijab?

1. Saudariku, Tahukah kita, bahwa dengan berhijab adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
Perlu kita pahami bersama, dan harus kita yakini bahwa Ketaatan merupakan sumber kebahagian dan kesuksesan besar di dunia dan akhirat. Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman manakala ia enggan merealisasikan, mengaplikasikan serta melaksanakan segenap perintah Allah dan RasulNya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. [Al Ahzab:71]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sungguh akan merasakan manisnya iman, seseorang yang telah rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul utusan Allah”. [HR Muslim].
Saudariku, jika Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan tubuh ini dengan berbagai kelebihannya, jika Dia telah menambah berbagai kenikmatan kepada diri kita bahkan all is free gift. Panca indera kita, oksigen yang kita hirup, lingkungan yang sehat di sekeliling kita, Keluarga yang menyayangi kita, Adakah Allah meminta balasan dari semua pemberian Nya? Bahkan ketika kita masih saja membangkang atas segala perintahNya, adakah Allah menghentikan nikmat pemberian dari Nya? Tak inginkan kita menjadi hamba yang bersyukur dengan menjalankan ketaatan kepada Nya?
Saudariku, tidakkah kita memahami bahwa Aqidah seorang Muslim sejatinya ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi perintah maupun larangan begitupun Rasul-Nya ketika bersabda, sikap kita adalah “sami’na wa atho’na”, we hear and we obey, kami dengar dan kami taat, langsung eksekusi. Dan kebahagiaan hakiki terdapat didalam ketaatan diri kepada Rabb kita.

2. Tahukah kita, bahwa Pamer aurat dan keindahan tubuh merupakan bentuk maksiat yang mendatangkan murka Allah dan RasulNya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. [Al Ahzab:36].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Setiap umatku (yang bersalah) akan dimaafkan, kecuali orang yang secara terang-terangan (berbuat maksiat)”. [Muttafaqun alaih].
Sementara wanita yang pamer aurat dan keindahan tubuh sama artinya dia telah berani menampakkan kemaksiatan secara terang-terangan. Mengapa maksiat? Karena maksiat adalah bentuk ketidaktaatan atas perintah sang Pencipta.

3. Saudariku, tahukah kita bahwa Sesungguhnya Allah memerintahkan hijab untuk meredam berbagai macam fitnah (kerusakan), diantaranya fitnah bagi laki-laki.
Jika berbagai macam fitnah redup dan lenyap, maka masyarakat yang dihuni oleh kaum wanita berhijab akan lebih aman dan selamat dari fitnah. InsyaaAllah. Sebaliknya, masyarakat yang dihuni oleh wanita yang gemar bertabarruj (berdandan seronok), pamer aurat dan keindahan tubuh, sangatlah rentan terhadap ancaman berbagai fitnah dan pelecehan seksual serta gejolak syahwat yang membawa malapetaka dan kehancuran yang sangat besar. Jasad yang bugil jelas akan memancing perhatian dan pandangan berbisa. Itulah tahapan pertama bagi penghancuran dan pengrusakan moral dan peradaban sebuah masyarakat.
Seorang wanita apabila memamerkan bentuk tubuh dan perhiasannya di hadapan laki-laki non mahram, jelas akan mengundang perhatian kaum laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba. Jika ada kesempatan mereka pasti akan memangsa dengan ganas laksana singa sedang kelaparan.
Seorang penyair berkata,
“Berawal dari pandangan lalu senyuman kemudian salam disusul pembicaraan lalu berakhir dengan janji dan pertemuan”.
Wanita yang berhijab secara sempurna akan memaksa setiap lelaki untuk menundukkan pandangan mereka dan bersikap hormat ketika melihatnya, hingga mereka menyimpulkan bahwa dia adalah wanita merdeka, bebas dan sejati.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hikmah di balik perintah mengenakan hijab dengan firmanNya yang artinya, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. [Al Ahzab : 59]
Padahal, sebenarnya dengan hijab/penutup aurat Allah telah memuliakan diri seorang muslimah. Mereka yang menutup aurat sesuai syariat telah Allah jaminkan agar tidak diganggu dan mudah untuk dikenali.

Nah, bagaimanakah Jilbab/hijab yang sesuai dengan syariat?

Batasan hijab sesuai syariat sebagaimana terangkum dalam buku Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Lil Imam Al Albani, diantaranya:
Menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi; (2) Tidak berfungsi sebagai perhiasan (yaitu bukan untuk memperindah diri); (3) Kainnya tebal tidak tipis; (4) Lebar, tidak ketat yang menampakkan bentuk lekukan tubuh; (5) Tidak diberi pewangi atau parfum; (6) Tidak menyerupai pakaian lelaki; (7) Tidak menyerupai pakaian wanita kafir; (8) Bukan merupakan libas syuhrah (pakaian yang menarik perhatian orang-orang)
Saudariku, nasehat ini tentu untuk kita semua sebagai seorang Muslimah. Hijab adalah bentuk kemuliaan dari Sang Pencipta. Ketika kita sebagai seorang Hamba ingin mewujudkan rasa syukur atas apa yang kita dapatkan hingga hari ini dari Sang Pencipta, maka taatlah kepada Nya. Bukankah surga dunia hanyalah sementara? Kesenangan duniawi, popularitas dan apa yang kita perjuangkan mati-matian pun akan sirna. Sedangkan kehidupan akhirat akan segera tiba. Cepat atau lambat kita akan dikumpulkan disana dan diminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan kita. Jika kita tidak taat kepada Nya, maka siapa lagi yang akan menolong diri kita?
Wallahua’lam bisshawwab.

Shared by:
Departemen Kemuslimahan
UKM LD Asy-Syari’ah MPM
Fakultas Hukum UNHAS
Sumber: https://almanhaj.or.id/2916-mengapa-wanita-harus-berhijab.html

Kewajiban Berhijab Syar’i Bagi muslimah

No Comments

Add your comment