Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar

UPAYA SERIUS PEMERINTAH PERANGI STATUS LAJANG

Memurnikan Aqidah, Menebar Sunnah, Dakwah Wasathiyah

UPAYA SERIUS PEMERINTAH PERANGI STATUS LAJANG

Ditulis oleh Pengurus UKM LD Asy-Syari’ah MPM FH-UH

Pernah dengar tentang KJJ? Pertama kali? KJJ adalah singkatan dari Kartu Jakarta Jomblo, ide kreatif milik pemerintah Provinsi Jakarta yang dimotori oleh pasangan Anies-Sandi sejak masa kampanye. Tujuan dari KJJ tidak lain adalah demi meningkatkan angka pernikahan di Ibu Kota tersebut. Selain KJJ ada pula Aplikasi Jakarta Jomblo, yah.. niat memang, sebab melihat pada data Badan Pusat Statistik DKI Jakrta menunjukkan angka pertumbuhan pernikahan di Jakarta yang memperihatinkan. Data tersebut menunjukkan tren pernikahan yang semakin menurun sejak tahun 2005 hingga 2015.

Meski menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, program tersebut nyatanya bukan sekedar guyonan belaka. Sandiaga Uno menyampaikan bahwa KJJ dapat menjadi solusi untuk mencegah penurunan populasi. Mengingat hiruk pikuk Ibu Kota dengan segala kesibukannya yang dapat mengalihkan keinginan seseorang untuk menikah.

Dalam ajaran Islam tidak tanggung-tanggung, pernikahan merupakan pelengkap keimanan seorang hamba. Simaklah hadist riwayat Al-Baihaqi berikut:

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Para ulama menjelaskan bahwa umumnya yang menjadi faktor rusaknya agama seseorang adalah sebab perkara kemaluan dan perutnya. Kemaluan dapat mengantarkan pada zina, sedangkan perut melahirkan sifat serakah.

Menikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yakni zina dengan kemaluan. Oleh karenanya dengan menikah, maka separuh agama seorang hamba telah terjaga.

Di zaman ini kita temui beberapa orang yang telah mapan secara ruh dan finansial, namun belum juga ingin untuk menikah. Atau pada kasus lain, beberapa orang justru takut untuk menikah sebab memandang dirinya belum mampu secara finansial.

“Nanti dulu, tunggu sukses dulu,” nyatanya usahanya telah berkembang maju.
“Aduh, belum siap. Saya saja hidupnya masih susah begini,” seolah lupa dan enggan percaya pada Allah yang Maha Kaya.

Nyatanya, kekhawatiran-kekhwatiran tersebut terbantahkan jika merujuk pada keutaman-keutamaan menikah, di antaranya;

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Allah menjamin rezeki bagi mereka yang berani mengambil langkah untuk menikah. Tak ada tafsiran lagi bukan pada firmanNya, “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” Adakah yang lebih kaya dari Allah?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya,

“… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” (HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dengan menikah akan membuat seseorang menjadi lebih tenang;

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Ruum:21).

Maka, tatkala seseorang telah menikah tak akan ada lagi kata galau dalam kamus kehidupannya.

Menikah pun dapat menjadi senjata sekaligus pelindung bagi kita sekalian yang hidupa di akhir zaman ini. Dengan segala macam fitnah dan cobaan. Terutama perkara menjaga pandangan.

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).

Imam Nawawi berkata makna baa-ah dalam hadits di atas terdapat dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali pada satu makna, yaitu sudah memiliki kemampuan finansial untuk menikah.

Lebih dari itu, menikah merupakan suatu ibadah yang disunnahkan para Rasul.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar Ra’du: 38).

Ini menunjukkan bahwa para rasul itu menikah dan memiliki keturunan.

Oleh karena menikah adalah suatu ibadah, maka sejatinya menikah adalah ibadah terpanjang yang dilaksanakan oleh seorang hamba. Maka, segala kegiatan dalam pernikah tersebut insyaallah dicatatkan sebagai amal kebaikan. Segala hal, tanpa terkecuali. Termasuk pada hal-hal yang sederhana, seperti berpegangan tangan, bercakap-cakap, hingga membantu pekerjaan pasangan. Tidakkah amalan ini amat menggiurkan saudaraku?

Lalu, bagaimana jika telah memiliki keinginan untuk menikah namun belum berkemampuan untuk itu?

Allah ta’ala mengingatkan dalam firmanNya:
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nuur: 33)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui sebuah hadist memberikan solusi dalam perkara demikian:

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu adalah pengekang syahwatnya yang menggelora.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).

Rasulullah menganjurkan kepada kita sekalian untuk berpuasa tatkala telah memiliki keinganan untuk menikah namun belum menyanggupi. Sebab dengan puasa, maka syahwat dapat lebih ditekan dan tentu bernilai pahala pula di hadapan Allah ta’ala, Insyaallah.

Dengan demikian, adalah salah jika seseorang telah memiliki sosok yang didamba dalam hati, namun sebab belum siap untuk melakukan pernikahan lantas memilih jalan lain yang salah. Yap, jalan yang tidak disyariatkan dalam Islam dan justru menjerumuskan dalam dosa. Sayangnya, perkara ini sudah dianggap lumrah, biasa saja, dan cenderung dibiarkan dalam masyarakat. Apakah itu? Benar, PACARAN.

Mari simak ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)

Meski tidak gamblang menyebutkan perihal Pacaran, namun ayat ini menggunakan frasa “mendekati zina” sebagai objek permasalahan. Pertanyaannya kemudian, adakah pacaran yang tidak mendekati zina? Sekecil-kecil zina dalam pacaran adalah perkara zina hati. Selebihnya? Usahlah ditanyakan lagi.

Islam tidak melarang hambanya untuk saling mencintai di antara laki-laki dan perempuan. Sebab untuk saling tertarik kepada lawan jenis adalah fitrah manusia.

Islam memandang cinta adalah perkara yang mulia. Olehnya, Allah menjadikan pernikahan sebagai solusi untuk perkara mulia tersebut.

Maka, mari mempersiapkan diri menyambut ibadah mulia tersebut. Caranya? Tentu dengan menjadi pribadi yang baik, sebab jodoh tak lain adalah cerminan diri seseorang.

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Perihal memilih pasangan, Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Al-Bukhari (no. 5090) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1466) kitab ar-Radhaa’, Abu Dawud (no. 2046) kitab an-Nikaah, an-Nasa-i (no. 3230) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1858) kitab an-Nikaah, dan Ahmad (no. 9237).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi).

Yang terpenting, jadikanlah pernikahan tersebut bernilai pahala, yakni dengan meniatkannya tidak lain adalah sebagai ibadah kepada Allah ta’ala. Maka semoga kelak akan terbentuk keluarga-keluarga Islam yang kokoh, melahirkan mujahid dan mujahidah demi menegakkan Islam secara Kaffah di muka bumi. Dan semoga kita adalah bagian di dalamnya. Aamiin ya rabbal aalamiin.

Sources by :

Memilih Isteri Dan Berbagai Kriterianya (1)

Ingin Naik Pelaminan, Namun Belum Mampu Beri Nafkah

Memilih Pasangan Idaman

Inginku Sempurnakan Separuh Agamaku

Follow us:
• LINE: @eog1521o
• Instagram: @ldampmfhuh
• Fanspage: UKM LD Asy-Syari’ah MPM FH-UH
• Youtube: LD Asy-Syariah MPM Fakultas Hukum Unhas
• Website: www.lda-syariah.org

No Comments

Add your comment