MENITI KEJAYAAN ISLAM: JADILAH GENERASI RABBANI DI ERA GLOBALISASI

Ditulis oleh Pengurus UKM LD Asy-Syari’ah MPM FHUH

 “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…” (Q.S Al-Ma’idah:54)

Negara Indonesia sebagai salah satu wilayah dengan kuantitas umat Islam terbesar di dunia dimana komposisi penduduk yang hampir 250 juta jiwa pada tahun 2015, terdapat 87% jiwa beragama Islam, ternyata tidak dapat dijadikan patokan sebagai wilayah penampu Generasi Rabbani di dunia. Faktanya, jika diperhatikan akan kondisi umat pada wilayah ini maka akan ditemukan adanya gejala demoralisasi dalam masyarakat. Kejahatan dan kekerasan hampir setiap hari menjadi konsumsi masyarakat yang dimunculkan di berbagai media. Berawal dari pergaulan bebas yang berujung pada perzinahan, aborsi, dan kasus kecanduan narkoba menduduki peringkat tertinggi yang terjadi pada generasi muda.[1] Selain itu, arus informasi yang masuk tanpa batas sebagai salah satu dampak globalisasi, seperti gaya hidup orang barat, telah diadopsi tanpa filter dan dijadikan sebagai suatu kebiasaan hingga kebanggaan. Disisi lain, tidak jarang ditemukan beberapa umat yang mengakal-akali syari’at, meninggalkan jihad, menyeru kemungkaran dan mencegah hal ma’ruf, ridha dengan dunia hingga tasyabbuh terhadap kaum kafir. Inilah generasi terburuk seperti umat Arab Jahiliyah. Realita ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa,

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Adalah sebuah kenyataan bahwa Islam saat ini sudah jauh dari apa yang dicontohkan oleh para salafusshalih yang dapat membangun khairu ummah (umat terbaik). Entah dari sisi ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan, kondisi umat islam justru terbelakang.

Menelisik realita diatas, maka menjadi suatu kewajiban bagi umat Islam secara keseluruhan untuk menjaga, membina, dan merajut generasi Islam agar menjadi generasi yang tangguh, kuat, dan berjiwa militan di masa depan, inilah yang disebut sebagai Generasi Rabbani. Adapun Generasi Rabbani dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki sifat sangat sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Pengertian tersebut berasal dari kata dasar Rabb, yang berarti Sang Pencipta dan pengatur makhluk, yaitu Allah Azza wa Jalla. Kata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah ‘rabbaniyun’. Ali bin Abi Thalib radhliallahu ‘anhu, mendefinisikan ‘rabbani’ sebagai generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radhliallahu ‘anhuma dan Ibnu Zubair mengatakan, bahwa Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Selain itu, para ulama sepakat, bahwa label ‘rabbani’ hanya digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki sifat-sifat berikut; Pertama, berilmu dan memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua, mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya. Ketiga, mengajarkannya kepada masyarakat. Sebagian ulama menambahkan sifat keempat¸ yaitu mengikuti pemahaman sahabat dan metode mereka dalam beragama.[2] Dengan kata lain, setiap gerak-gerik kehidupan para Rabbani adalah sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan tuntunan as-Sunnah. Bahkan, hingga nafasnya pun tidak direlakan untuk terjerumus pada kebatilan, sehingga kehidupannya sungguh dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengumpulkan segala kebajikan sebagai bekal kehidupan akhirat.

Adapun jika mengacu pada Surah Al-Ma’idah ayat 54,

Allah Subhanahu wa Ta’a berfirman, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui

Dari dalil tersebut, ditemukan karakteristik daripada Generasi Rabbani itu sendiri, antara lain; Mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan Allah pun mencintai mereka, lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, bersikap keras dengan orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela, serta yang terpenting mereka adalah orang-orang yang berilmu. Selain pada Surah Al-Ma’idah ayat 54, dapat dilihat pada Surah Al-Furqan ayat 63, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Berdasarkan dalil tersebut, Allah Azza wa Jalla menyebut Generasi Rabbani sebagai ibaddurrahmaan, yaitu hamba yang disayangi dan dikasihi Allah.

Bersemainya kebudayaan kafir melalui berbagai media di tanah air menjadi ancaman serius terhadap generasi Islam di Indonesia. Syekh Mustafa Al-Ghulayani mengatakan bahwa, pemuda adalah tulang punggung suatu negara, ditangan merekalah kelak jatuh dan bangunnya sebuah negara. Hal ini harus diperhatikan jika umat berkeinginan mewujudkan kejayaan Islam dikemudian hari. Pembentukan Generasi Rabbani adalah sebuah cita-cita, idealitas yang serius keberadaannya di tengah-tengah kondisi umat Islam yang semakin terpuruk moral dan aqidahnya. Allah subhanahu wa ta’ala pun telah memerintahkan Nabi-Nya untuk membentuk Generasi Rabbani sesuai yang tertuang dalam firman Surah Ali Imran ayat 79, yang artinya:

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Sehingga generasi inilah yang akan menyebarkan cahaya kebenaran di seruluh penjuru. Sebagai kaum intelektual muslim yang berwawasan kritis dan luas, hendaknya membumikan kembali nilai-nilai Islam harus senantiasa dipupuk, dipelihara dan ditingkatkan. Dengan kembali kepada hakekat Islam itu sendiri dan berlomba-lomba menjadi Generasi Rabbani yang mumpuni.

Saudaraku, walaupun kejayaan Islam di masa depan merupakan suatu keniscayaan karena Allah telah menjaminkannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

 “Sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran pasti akan menang terhadap musuhnya, tidak akan dikalahkan oleh siapa yang menentangnya dan tidaklah akan dikalahkan musuh mereka sampai sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan mereka masih tetap akan demikian.” (H.R. Bukhari Muslim).

Namun dari segala kenyataan dan problematika yang ada, hal yang terpenting adalah, dengan menjadi Generasi Rabbani, kita termasuk orang-orang yang berkontribusi dalam proses kejayaan Islam tersebut. Tidak tergiurkah kita dengan label “ibadurrahman” yang Allah Ta’ala sematkan dalam diri-diri kita? Tidak inginkah kita seperti para Shahabat, masuk didalam shaf perjuangan Islam dengan senantiasa melihat serta memperbaiki kualitas diri?. Sekali lagi, jika ingin kejayaan Islam itu muncul, mulailah dari diri pribadi. Menjadi Generasi Rabbani.

Wallahua’lam bisshawwab.

Referensi:

[1] Mulyana, Membangun Generasi Rabbani, https//:www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkhutbah&id-66, diakses pada 10 Mei 2015.

[2] Ammi Nur Bai’its, Mendidik Generasi Rabbani, https//:www.buletin.muslim.or.id/keluarga/mendidik-generasi-rabbani.

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

About LD Asy-Syariah MPM FH UH

View all posts by LD Asy-Syariah MPM FH UH →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *