ANTARA AQIDAH DAN TOLERANSI

 

Antara Aqidah & Toleransi

Segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla atas segala karunia dan nikmatNya, salam dan shalawat senantiasa tercurahkan kepada RasulNya Shallallahu’alaihi Wassallam.

Islam adalah agama Rahmatan lil‘alamin, artinya Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya bagi umat Islam itu sendiri, tetapi Islam hadir sebagai rahmat untuk seluruh alam, mulai tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, hingga lautan, termasuk umat beragama diluar dari pada umat Islam itu sendiri.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Kepada umat beragama diluar Islam, Rasulullah dan para sahabat banyak mengajarkan kepada kita bagaimana berbuat terhadap mereka, termasuk dalam berbuat baik dan bersikap adil terhadapnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassallam bersabda

“Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad tanpa hak, ia tidak mencium bau surga”(HR. Ibnu Hibban, shahih)

Dan dalam surah Al-Mumtahanah Allah Azza Wa Jalla berfirman

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah :8).

Kita juga dapat mengingat bagaimana pembebasan Al Quds dalam kepemimpinan Umar Ibn Khattab. Beliau Radhiyallahu’anhu memberikan kesempatan kepada umat non-muslim saat itu untuk menjalankan agamanya sebagai bentuk toleransi beliau.

Sungguh kita benar-benar mendapati Islam adalah rahmatan lil’alamin yang salah satunya terimplemantasikan dalam bentuk toleransi kepada umat beragama.

Begitupun saat ini, umat Islam dituntut untuk senantiasa menggelorakan semangat Islam Rahmatan lil’alamin yang terjewantahkan dalam bentuk toleransi sesama umat beragama.

Salah satu hal yang dianggap sebagai bentuk toleransi yang masih dilakukan oleh sebagian umat muslim saat ini adalah ucapan selamat hari raya yang ditujukan kepada teman atau kerabat yang non muslim. Ucapan hari raya tersebut dianggap sebagai bentuk menghormati pemeluk agama lain, dianggap sebagai bentuk toleransi yang harus dijunjung tinggi. Namun sadarkah kita, ucapan tersebut bukan sekedar rangkaian kata kata biasa, melainkan sesuatu hal yang konsukensinya teramat besar.

Lantas bagaimana kita bersikap? Bukankah hal tersebut hanya sebatas ucapan belaka? Bagaimana mungkin ucapan mempunyai konsekuensi yang besar? Lantas bagaimana konsekuensi dalam ucapan selamat hari raya tersebut?

Melihat hal tersebut, kita dapat merujuk ke firman Allah dalam Surah Maryam

Allah Subhanau wata’ala berfirman

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh.” (QS. Maryam 88-90)

Dari ayat di atas kita dapat melihat bahwa Allah menyinggung orang-orang yang mengucapkan “Allah mengambil (mempunyai) anak”. Hal ini mempunyai makna yang serupa dengan dengan ucapan hari raya yang biasa kita sampaikan kepada teman atau kerabat kita yang non muslim. Menariknya pada ayat selanjutnya, Allah menerangkan konsekuensi dari ucapan tersebut yaitu mendatangkan sesuatu yang sangat mungkar. Dan sampai pada ayat 90, dikatakan hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh disebabkan oleh “ucapan” tersebut.

Bayangkan hanya dengan ucapan saja, Allah mengatakan konsekuensi yang teramat besar yang mengikat dari ucapan tersebut. Kita dapat melihat sejarah ketika Gunung Krakatau meletus pada abad ke 19 yang Kekuatannya setara 150 megaton TNT, lebih 10.000 kali kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Melenyapkan pulau dan memicu dua tsunami, dengan tinggi 40 meter, menewaskan lebih dari 35 ribu orang. Itu baru satu gunung, bagaimana jika lebih dari satu gunung, sebagaimana penegasan Allah dalam ayat diatas yang mengatakan kata “jibal” yang artinya gunung-gunung, bukan “jabal” yang artinya gunung. Sungguh ini konsekuensi yang teramat berat.

Selanjutnya, kita dapat belajar dari sahabiyat mulia, Sumayyah Radhiyallahu ‘anha, yang mengalami penyiksaan oleh Abu Jahal Laknatullah’alaih. Beliau bisa saja bebas dari penyiksaan tersebut, dengan syarat harus mengucapkan latta dan uzza adalah sembahan, disamping mengatakan Muhammad hanya sebatas pendusta belaka. Tapi apa yang beliau lakukan? Beliau dengan tegas menolak untuk mengatakan “ucapan” tersebut, sampai pada akhirnya Abu Jahal tak sabar akan keteguhan aqidah Sumayyah Radhiyallahu “anha, hingga Abu Jahal membunuh beliau dengan hunusan besi/pedang.
Beliau yang dalam kondisi tertekan & nyawa menjadi taruhan, dengan tegas menjaga dirinya dari ucapan yang yang menyalahi aqidah. Bagaimana dengan kondisi kita sekarang?

Sungguh kita benar-benar tak dapat menanggap remeh sebuah ucapan. Karena bisa saja di dalamnya terdapat konsekuensi yang teramat berat, yang bisa sampai pada persoalan aqidah.

Maka dari itu, marilah senantiasa kita berusaha menjaga aqidah kita, sembari berlaku baik dan adil kepada teman-teman kita yang non-muslim. Karena sungguh, sejatinya Islam adalah Agama Tauhid, Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, wallahu a’lam.

, , , , , , , , , , , ,

About LD Asy-Syariah MPM FH UH

View all posts by LD Asy-Syariah MPM FH UH →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *